MERUBAH MUSIBAH MENJADI ANUGERAH

October 1, 2009 at 5:37 pm (MERUBAH MUSIBAH MENJADI ANUGERAH) (gempa padang, gempa sumatera barat, rahasia di balik gempa, tanda-tanda gempa)
dropofwate_o3tq9lxm
Duh Gusti ingkang akaryo jagad…
Kiranya Engkau masih berkenan mengampuni segala khilaf dosa-dosaku, keluargaku,
orang-orang terdekatku, sahabat-sahabatku,
salah dan dosa generasi penerus bangsa Indonesia ini
Yang telah khilaf, telah durhaka kepada ibuku-bapakku,
Kepada Ibu pertiwi yang disia-siakan
Ibu pertiwi yang selalu meratap menangis
Kepada bapak perintis bangsa, para leluhur dan nenek moyang yang telah jerih payah membangun dan melestarikan alam sekitar agar dapat kita semua nikmati saat ini.
Kepada para leluhur pejuang dan pahlawan kemerdekaan
Yang telah mengorbankan nyawa, harta dan martabatnya demi kemuliaan kita semua ini
Ampunilah segala salah dan dosa para pengelola bangsa, pemimpin, politisi,
wakil rakyat, ulama, umaro di manapun berada.
Jadikan diri ini sebagai magnet kebaikan,
agar supaya mampu menebarkan dan menarik segala yang baik-baik.
Duh Gusti Ingang Mohowelas
Jaga kami semua dari segala kefakiran;
fakir hati, fakir ilmu, fakir rejeki, fakir akal-budi, fakir kesehatan.

Tuhan Yang Maha Kasih, aku tahu Tuhan tidak pilih kasih. Bencana ini bukanlah berhubungan dengan agama, budaya, etnis, suku bangsa, ras, bahasa, ajarannya. Namun berhubungan dengan PERBUATAN manusia. Tuhan Yang Mahakuasa, di balik musibah dan bencana ini limpahkan anugerah agung kepada orang-orang yang terkena musibah dan bencana alam, kepada bangsa dan negeri ini yang telah sekian lama dirundung musibah dan bencana.
Amin

Flash Back

Saya masih teringat saat gempa dahsyat terjadi di Jogjakarta 3 tahun silam tepatnya hari Sabtu 27 Mei 2006, seminggu setelah gempa menghancurkan bumi Jogjakarta dan sekitarnya, saat itu saya terima kabar dari saudara di Padang, ia barusaja mengikuti khotbah jum’at berujar lah seorang ustad bahwa,”gempa terjadi karena orang-orang di Jogja telah meninggalkan shalat dan berbuat syirik. Saat itu saya mengelus dada, mengapa masih ada seorang yang selayaknya dijadikan panutan masyarakat justru berucap prasangka buruk yang menurut saya teramat tega dan kejam hatinya melukai perasaan sesama warga bangsa. Saya kira Tuhan pun tidak akan sekejam seperti yang ada dalam kata-kata yang diceramahkan sang ustad tersebut. Yang telah mengobok-obok “hak” prerogatif Tuhan. Manusia menjadi berlagak sok tahu, bahkan dengan amat tega menghunjamkan kata-kata pedas kepada orang-orang yang sedang menderita dan butuh pertolongan dari sesama.

Setelah dibuka dengan gempa 7,4 SR di Sukabumi dan wilayah Jawa Barat dan sekitarnya, tepatnya hari Rabu tanggal 2 September 2009. Maka hari ini tepat tanggal 30 September hari Rabu juga, belum sampai kering air mata, dalam bulan yang sama negeri ini kembali dilanda derita isak tangis oleh para korban bencana gempa bumi yang kembali mengamuk di wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya dengan kekuatan 7,6 s/d 8 SR. Gempa dahsyat yang menjadi penutup bulan September sebagai puncak bencana alam nan dahsyat.

Tengah malam, saya tersentak lagi mendengar kabar dari saudara di Padang yang memberitahukan bahwa sang ustad yang 3 tahun lalu dalam khotbahnya berprasangka buruk terhadap masyarakat Jogja yang tengah terkena musibah, menjadi salah satu korban gempa bumi tadi sore di Padang. Ya Tuhan, ampunilah segala dosa dan kesalahannya.

Kini, saya hanya bisa meratap betapa kita harus berhati-hati dengan mulut kita, dalam berbicara jangan sampai menyinggung perasaan atau menyakiti hati orang lain. Apalagi ia sedang dalam kondisi teraniaya karena tertimpa musibah. Bukan tidak mungkin hal yang sama bisa menimpa kita yang lengah, tidak eling dan waspada. Berucaplah yang menentramkan dan menyejukkan hati sesama, kinaryo karyenak ing tyas sesama. Tansah eling dan waspada..! Boleh jadi, orang yang kita hina tetap sabar narima saat dihina, namun hati-hatilah dengan orang yang sabar narima demikian, sebab sing momong mesthi ora trima. Jika kita menghina, memfitnah, menuduh orang lain dengan kalimat buruk, apalagi tuduhan itu tidak benar, maka semua yang kita tuduhkan itu akan berbalik pada diri kita sendiri. Terdapat pepatah,”jangan meludah ke arah datangnya angin, karena ludahmu akan menimpa wajahmu sendiri.

Sebaliknya, bagi siapapun yang sedang menjadi korban fitnah, hinaan, cacian, maka bersabar dan besar hati bukanlah sikap yang membuat diri kita menjadi sengsara dan semakin terhina, sebaliknya bila kita bersabar dan lapang dada maka biasanya cepat atau lambat keburukan yang dilontarkan itu akan kembali kepada si pemfitnah. Sementara perkataan buruk yang ia lontarkan akan menjadi doa yang baik buat diri kita sendiri. Misalnya anda sedang mengalami kekurangan, atau sedang terlilit kesulitan ekonomi, lantas ada orang yang menghina dengan sindiran halus , “wah hebat, kamu sekarang “sukses & kaya” ya ! Maka biarkan saja, apabila anda terima, maka sing momong anda tidak akan terima.
Bulan Puncak Bencana

seperti telah kita bersama bahas sebelumnya, bahwa September 2009 adalah bulan puncak bencana alam tahun ini. Pembukaan bencana pada hari Rabu (gendruwo) tgl 2 september 2009. Ditutup pada hari Rabu (gendruwo) pula, tanggal 30 September 2009. Hal itu bukanlah latah dan asal-asalan, semua kita ungkap dan sampaikan kepada siapapun dengan tujuan agar lebih eling dan waspada dan dapat menghindari bahaya bencana semaksimal mungkin. Kita pasrah, berdoa, tetapi harus berusaha. Sebab tanpa usaha dan doa, apalah arti manusia sebagai makhluk lemah ciptaan Tuhan yang Mahakuasa. Tuhan Maha Adil dan Maha Welas tidaklah kejam, sebab segala sesuatu sudah ada warning terlebih dahulu. Hanya saja, manusia zaman kini yang serba modern dan canggih, bahkan merasa diri sudah menjadi manusia yang paling baik dan benar. Namun jika mau jujur kebanyakan manusia telah salah kaprah mengartikan bahasa Tuhan melalui tanda-tanda alam yang sungguh nyata dan jelas. Eling atas segala penghalang kemuliaan, waspada terhadap segala macam bentuk sinyal-sinyal Tuhan. Dengan demikian, kita akan menjadi orang yang bisa NGGAYUH KAWICAKSANANING GUSTI. Tahu apa yang dikehendaki Tuhan. Hidup menjadi lebih gamblang dan terang benderang. Mengerti secara tepat apa yang harus dilakukan. Lalu menghayatinya dengan penuh belas kasih. Itulah orang-orang yang berbudi pekerti luhur.
Kembalilah Ke Pangkuan Ibu-Bapak Pertiwi

Kepada saudara-saudaraku sebangsa setanah air, marilah kita pahami bersama, bencana alam sebagai bentuk teguran dan hukuman Tuhan atas segala kesalahan dan dosa manusia. Dengan begitu kita akan menjadi lebih MEWASPADAI DIRI KITA SENDIRI. Yang sering khilaf dan bersalah dengan tanpa kita sadari. Kita jalani semua bencana ini dengan tabah, sabar, tulus dan bersemangat untuk bangkit kembali. Masyarakat seperti terhenyak sadar pentingnya mengolah rasa. Kembali melestarikan dan menghayati nilai-nilai luhur bangsa yang selama ini telah dilecehkan dan dianggap sepele, kuno, sirik, dan musrik dst. Nilai luhur yang penuh kearifan dan kebijaksanaan. Nilai luhur yang benar-benar mengerti dan memahami bahasa alam, kehendak dan kodrat alam bumi nusantara. Ajaran yang sungguh cermat mengenali jati diri bangsa. Nilai yang mengandung ajaran kepada manusia agar tidak melawan hukum Tuhan yang tergelar di jagad raya. Ajaran yang mengajak untuk melakukan perbuatan yang harmonis dan sinergis dengan irama alam. Menghormati, belas kasih, memelihara terhadap sesama manusia, terhadap binatang, tumbuhan, lingkungan alam serta penghuni alam gaib. Bukankah semua itu sama-sama makhluk ciptaan Tuhan yang harus saling welas asih dan saling menghargai ?!! Hanya dengan cara demikianlah kita akan berhasil MERUBAH MUSIBAH MENJADI ANUGERAH. Lihatlah musibah gempa di Bantul 3 tahun silam. Kini, musibah itu telah menjadi ANUGERAH TEKTONIK. Membawa kemakmuran masyarakat khususnya wilayah Bantul dan sekitarnya.

Warning !!!

Memang bisa dikatakan bahwa puncak bencana berada selama bulan September ini, namun bukan berarti kita bisa mengendorkan sikap eling dan waspada. Sebab, sisa-sisa gempa yang cukup kuat belumlah habis. Semakin surut, walau tidak berbahaya sekali namun bisa saja membuat celaka. Namun, bagi wilayah yang belum pernah terjadi gempa terutama di wilayah timur Sumatera hendaknya lebih waspada. Dan hari ini Tuhan telah meletakkan kembali tanda-tanda dalam bentuk bahasa alam yang berada di langit sebelah timur. Kita waspadai gejolak gunung api dan air yang giliran akan berbicara. Di manapun berada, dan siapapun yang berada di dekat dua wilayah itu hendaknya lebih waspada dan semakin gentur berdoa mohon keselamatan. Perjalanan menuju kemakmuran masih panjang. Sileme prahu gabus baru terjadi saat tahun 2012-2015. Keadaan yang sangat berat akan disangga bangsa ini. Terutama kebangkrutan ekonomi paling parah seanjang zaman. Bahkan melihat tanda-tandanya akan mampu menghempaskan siapapun yang tengah memegang tampuk kekuasaan tertinggi di negara ini. Walau sang penguasa memperoleh jatah 7,5 tahun memimpin negeri tercinta, namun yang 5 tahun sudah dijalaninya, dan sudah dihabiskan pada saat gempa dahsyat 30 September 2009 ini. Yah, walaupun masih bersisa setengahnya lagi, hendaknya menjadikan kekuasaannya sebagai kesempatan untuk mengabdi kepada negeri, bangsa, dan negara tercinta ini. Mempersembahkan baktinya yang tertinggi, agar supaya tidak lagi menjadi negeri yang durhaka sampai mati. Agar mendapat berkah Ilahi. Dapat dirasakan sampai anak cucu nanti. Tanamlah pohon kebaikan sebanyak-banyaknya, agar buahnya berlimpah bisa dinikmati hingga anak cucu kelak. Dan tebarkan segala ketulusan dan kasih-sayang kepada seluruh makhluk. Hanya dengan begitulah, Kekuatan Sang Gaib akan selalu memagari jiwa raga kita dari segala macam celaka dan bencana. Bahkan kekuatan kasih sayang yang tulus kepada seluruh makhluk, dengan tanpa membeda-bedakan budaya, agama, ajaran, dan suku bangsa, akan mampu mengambil “hati” bumi pertiwi sehingga dapat melepaskan sedikit demi sedikit stock energi tektonik dashyat yang masih tersimpan di dalam bumi dan kapanpun siap menggelegar menghancurkan permukaan bumi ini.
Seberapa Pandaikah Kita Mensyukuri Nikmat Tuhan ?

Bencana demi bencana telah terjadi. Marilah, semua itu kita jadikan sarana introspeksi diri. Agar kita LEBIH PANDAI BERSYUKUR. Bersyukur bukan sekedar ucapan di bibir saja (lips service), namun bersyukur dengan cara konkrit. Kita manifestasikan ke dalam perilaku dan perbuatan hidup sehari-hari. Jika kita diberikan kesehatan, kita gunakankesehatan untuk segala yang baik. Untuk membantu yang sakit dan menderita. Jika kita kecukupan rejeki, kita bantu orang-orang yang sedang terkena musibah. Jika kita dianugerahkan banyak ilmu, kita tularkan ilmu kepada orang lain. Semua itu kita lakukan dengan ketulusan dan kasih sayang. Tulus, setulusnya, walau kita membantu dengan materi yang sangat berharga, namun kita lakukan secara ikhlas ibarat keihklasan kita saat buang air besar. Itulah gambaran kesempurnaan ikhlas.

Rahayu dan karaharjan, salam sih katresnan untuk negeriku, dan seluruh saudara-saudaraku sebangsa setanah air.

Hari yang berkabung 30 September 2009

About admin

orang biasa berusaha jd tetap biasa..ketenangan jiwa akan selalu ada asal selalu bersyukur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s