logo%20nu2Pesantren Mantan Preman
Dinding Berhias Relief-Nya

LAZIMNYA, ornamen naga terdapat di dalam kelenteng. Namun, apa jadinya kalau digunakan untuk menghias pesantren; tentu bakal menimbulkan pertanyaan. Ya, pertanyaan itu akan terlontar manakala kita mengunjungi Pesantren ”Istighfar” di Jalan Purwosari Perbalan I/755 D Semarang. Pesantren yang diasuh Gus Tanto (kiai Tombo Ati) itu, menampilkan relief dua naga di dinding depannya. Bagi Gus Tanto, relief tersebut bukan hiasan semata-mata, melainkan punya pemaknaan di sebaliknya.

”Naga itu simbol keangkaramurkaan. Hewan tersebut memakan apa saja, termasuk bola api. Nah, pesantren ini didirikan terutama untuk persinggahan para mantan preman atau orang-orang yang pernah menempuh jalan kesesatan. Dalam bahasa gampangnya, tempat ini diikhtiarkan untuk mengatasi keangkaramurkaan naga,” jelasnya.

Selain relief naga, banyak ornamen lain di Istighfar yang unik dan tak lazim ditemukan dalam pesantren pada umumnya. Coba lihat tulisan yang tertera di luar dinding mushala: ”Wartel Akhirat (0.42443)”.

Apa maksudnya? ”Wartel” yang digagas Gus Tanto adalah metafora media komunikasi antara manusia dengan tuhannya; sedangkan deretan angka yang menyerupai nomor telepon di belakangnya, merupakan simbolisasi adab komunikasi itu.

”Nol adalah simbol dari kekosongan. Sebelum melakukan shalat, kita harus mengosongkan pikir dari hal-hal yang bersifat keduniawian. Adapun 42443 adalah jumlah rakaat shalat lima waktu, dari isya, subuh, zuhur, ashar, dan magrib,” katanya.

Masuk ke dalam mushala, kita akan dibuat lebih terperangah. Apa pasal? Di atas ruang untuk shalat itu, terpasang sebuah lampu disko! Untuk yang satu itu, Gus Tanto pun punya penjelasan. Lampu bundar yang memendarkan cahaya warna-warni itu, bukan difungsikan sebagai alat penerangan, melainkan sekadar alat peraga untuk menjelaskan kepada para santri.

”Lampu disko merupakan metafora dari kehidupan dunia yang glamour. Padahal, itu semua hanyalah hiasan. Kalau dibuka, yang ada di dalamnya cuma lampu putih. Itulah, warna yang sejati,” paparnya.

Masih ada lagi ornamen ubin pecah-pecah di ruang tengah. Hampir serupa dengan hiasan naga, ornamen itu untuk menggambarkan betapa pesantren Istigfar berihktiar menyatukan kembali jiwa manusia yang retak.

Pemilihan warna pondoknya pun mengandung makna. Warna biru dipilih, bukanlah tanpa sebab. Menurutnya, warna biru adalah surga.

Lho, memangnya surga warnanya biru Gus? Jika ditanya, pria yang sudah terbiasa berpuasa Senin-Kamis sejak kelas II SD itu segera bertutur.

Hal itu diilhami dari peristiwa saat dirinya berumur 35 tahun. Saat itu, ia sedang menjalani puasa 101 hari. Tiga hari menjelang waktu yang ditetapkan, dirinya mengalami sakharatul maut. Sekujur tubuhnya kesakitan, dari ujung rambut hingga kaki. Saat menahan sakit yang luar biasa itu, antara sadar dan tidak, dirinya mendapati tempat seperti langit. Seluruh ruangan tersebut berwarna biru, di dalamnya terdapat jalan yang terang benderang disertai udara sejuk.

“Saya berpikiran, tempat tersebut adalah surga,” tukasnya.

Gus Tanto memang gemar bermain simbol. Lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai mandor di Terminal Terboyo itu, memasukkan simbol-simbol tersebut dalam bangunan pesantren yang ia kelola. Saat ini, Santri yang ngangsu ilmu di tempatnya, kebanyakan datang dari kaum preman. Mulai dari preman jalanan, bekas narapidana, bekas pembunuh, dan pemabuk. Para preman yang biasanya berperangai garang, di tangannya berubah santun.

Arianto (30), misalnya, mantan narapidana kasus pembunuhan lima tahun silam, sejak menjadi santri Gus Tanto berubah 180 derajat. Dulunya, warga Jalan Perbalan Purwosari Gang IV itu termasuk pria berwatak kasar.

“Saya dulu sering marah tanpa sebab. Tiap bertemu orang, hawanya pingin marah. Tapi, sekarang kalau marah rasanya menyesal,” ujar dia.

Hal yang sama juga dialami Kuat Sumali (47). Pria yang sekujur badannya dipenuhi tato itu mengaku menyesal dengan masa lalunya. Kini, pria yang sudah mempunyai cucu itu menemukan ketenteraman batin setelah menjadi santri di pondok Gus Tanto.

Rata-rata preman yang menjadi santri mengaku senang dengan metode pembelajaran yang diajarkan di Pesatren Istighfar. Dalam mengajar, kiai berambut gondrong itu lebih mengedepankan akhlakul karimah.bahkan sampai saat ini gus tanto juga punya usaha transportasi,.jarak jauh maupun dekat dengan nama istighfar.beliau sangat disegani dikalangan preman semarang,beliau banyak punya murid preman yg berusaha mengenal islam,murid nya meliputi preman johar ,barutikung,terboyo,banyumanikdan banyak tempat tempat nongkrong para preman,beliau sudah banyak mengentaskan preman preman yang keblinger jadi orang baik,kabar yang beredar gus tanto punya keramat tinggi.gustanto adalah kyai yang memang mantan preman yang sudah pengalaman dalam dunia kekerasan.banyak musuh musuh beliau yang di taklukkan saat dia masih jadi preman.murid saat ini sudah mencapai ribuan bahkan banyak juga yg dari luar kota,kebanyakan jadi santri non mukim.
banyak keunikan yg di miliki gustanto.

About admin

orang biasa berusaha jd tetap biasa..ketenangan jiwa akan selalu ada asal selalu bersyukur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s