HUJAN lebat mengguyur Dusun
Muntei Baru-Baru, Pulau Pagai
Utara, Mentawai, Sumatera
Barat, Senin malam pekan lalu. Di
luar rumah, ombak Samudra
Hindia berdebur seperti biasa. Candra bercengkerama dengan
bayinya, Girson Irfraek, di
tempat tidur. Sang suami,
Kresianus, terlelap di samping
mereka. Jarum jam menunjuk
pukul 21.42. Rumah kayu mereka tiba-tiba
terayun. Candra tersentak.
Suaminya terbangun. Menyadari
goyangan gempa, mereka
bergegas lari ke luar rumah.
Sang buah hati mereka gendong. Di luar, langit pekat seperti
arang. Bumi terus bergoyang,
dan baru berhenti setelah empat
menit. Badan Meteorologi, Klimatologi,
dan Geofisika malam itu
mengumumkan Mentawai
diguncang gempa 7,2 skala
Richter. Berpusat pada 78
kilometer barat daya Pagai Selatan, menurut badan itu,
gempa di kedalaman 10 kilometer
ini berpotensi tsunami. Namun, bagi Candra, gempa
malam itu tak terlalu
mengkhawatirkan. Ia pernah
merasakan gempa 8,4 skala
Richter yang mengguncang
desanya tiga tahun silam. Sejak itu, gempa susulan kerap datang.
Lindu pun menjadi kawan sehari-
hari masyarakat daerah yang
acap dijuluki Bumi Sikerai atau
tanah para dukun ini. Itu sebabnya, pasangan muda
tersebut balik lagi ke rumah,
yang jaraknya 50 meter dari
tepi pantai, setelah gempa
berakhir. Mereka berniat tidur.
Tapi, 10 menit masuk rumah, Candra mendengar suara mirip
ledakan dari laut. “Duarr…,” tutur
Candra kepada Supri Lindra,
kontributor Tempo di Mentawai,
Kamis pekan lalu. Menurut Candra, suaminya
membuka pintu dan melongok ke
arah laut. Tapi ia tak melihat
apa-apa. Malam terlalu gelap dan
hujan masih mengguyur. Tapi
mereka mulai panik. Kresianus menggendong Girson dan
mengajak istrinya kembali ke luar
rumah. Mereka berlari menuju
jalur evakuasi yang telah
dibangun sepanjang dua
kilometer ke arah bukit. Dari laut gemuruh ombak besar terasa
semakin dekat. Orang-orang ternyata sudah
memadati satu-satunya jalan
evakuasi itu. Tapi gelombang
tinggi dari kanan Muntei
mengejar lebih cepat. Lalu
gelombang kedua lebih besar menyapu dari kiri. Dua gelombang
itu bertemu, seperti bertepuk
menghancurkan kampung.
“Gelombang pertama mengejar
kami yang terus berlari. Airnya
seleher,” kata Candra. Kresianus berteriak meminta
istrinya jangan berhenti berlari.
Candra melihat banyak warga
tergulung air laut. Teriakan
minta tolong terdengar di mana-
mana. “Saya dan suami berpegangan agar tak terbawa
arus,” ia mengenang. Tak lama setelah itu, gelombang
kembali datang, menghantam
pasangan ini. Candra terpisah
dengan suami dan anaknya. Ia
merasakan sebatang pohon
kelapa yang terbawa air menabraknya. Candra jatuh
telentang dan terkubur pasir.
“Saya berusaha mengangkat
kepala dan membersihkan wajah
agar bisa bernapas,” katanya. Candra masih mengingat, malam
itu hujan masih terus mengguyur.
Namun gelombang air laut
susulan tidak datang lagi. Satu
jam kemudian dia ditemukan
Rulisman, tetangganya. Bersama warga lainnya, Rulisman
mengangkat pohon kelapa yang
menindih tubuh Candra.
“Pinggang ini rasanya mau
patah,” kata Candra. Dia
digotong ke atas bukit. Di sana ada dua pondok kayu yang
dibangun warga Muntei buat
mengungsi pada saat gempa
2007. Malam itu menjadi malam yang
panjang bagi warga Muntei.
Perempuan dan lelaki sibuk
mencari sanak keluarganya. Tak
mudah melakukannya pada
malam yang gelap-gulita itu. Satu-satunya tanda hanyalah
suara rintihan. Orang-orang akan
datang ke arah suara lalu
memberikan pertolongan. Candra pun berusaha mencari
sang suami dan bayinya. Dia
tertegun. Air matanya mengucur
deras ketika mendapati sang
suami tak lagi bernyawa.
Tubuhnya tertimpa puing bangunan yang roboh. “Bayi saya
tidak ada di sana. Hilang,”
katanya. HARI-HARI berat dilalui penduduk
Mentawai. Para penolong masih
kesulitan menyalurkan aneka
bantuan, termasuk bahan
makanan. Menurut Bupati
Mentawai Edison Saleleubaja, bantuan logistik dan ratusan
relawan tertahan di posko
bencana Kecamatan Sikakap,
Pagai Utara. Kepulauan Mentawai merupakan
kelompok pulau yang terdiri atas
empat pulau utama, yaitu
Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan
Pagai Selatan. Kawasan ini dihuni
oleh mayoritas masyarakat suku Mentawai. Wilayah seluas
6.011,35 kilometer persegi ini
memiliki 10 kecamatan dan 42
desa, dengan penduduk sekitar
68.097 orang. Tsunami malam itu menyapu
Pulau Sipora, Pulau Pagai
Selatan, dan Pulau Pagai Utara.
Dusun Muntei Baru-Baru
merupakan lokasi terdekat dari
Kecamatan Sikakap, pusat keramaian di Pagai Utara dan
Pagai Selatan. Dusun itu bisa
ditempuh sekitar satu jam
pelayaran kapal bermesin dari
Sikakap.

About admin

orang biasa berusaha jd tetap biasa..ketenangan jiwa akan selalu ada asal selalu bersyukur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s