gus tanto guru Gus Tanto melayani sedikitnya 250 preman+ribuan yg datang pergi@non mukim.,
yang ingin belajar agama Sebuah pondok pesantren di Kota Semarang mencoba
mengkhususkan diri memberi
pencerahan kepada para preman
atau berandal jalanan. Dengan metode yang disebut tombo ati (obat hati),pengelola pondok pesantren ini
berupaya mengajak para bandit
jalanan agar sadar dan bekerja
dengan cara yang benar, lapor
Edhi Prayitno untuk BBC
Indonesia. Pesantren itu sendiri bernama Pesantren Istighfar, dimaksudkan agar tempat ini bisa
menjadi tempat bertobat.
Pengelola pesantren, Mohamad
Kuswanto atau Gus Tanto ,kyai yg benar2 pengalaman lapangan akan kerasnya kejahatan. setiap
hari melayani preman yang belajar ibadah. Semuanya adalah santri mukim dan santri kalong
atau santri yang datang ke
pesantren jika ada acara atau
membutuhkan konsultasi. Menurut Gus Tanto, pesantren
itu didirikan secara fisik tahun
2005, meski aktivitasnya sudah
ada sejak 20 tahun lalu. Cap buruk Dia yang lahir dan besar di
kampung itu, mengaku tidak
tahan melihat kekerasan di
lingkungannya. “Orang main ke Perbalan itu sudah berpikir seribu kali karena
tidak aman apalagi nyaman.
Brooklyn-nya Semarang itu
Perbalan ini. Krisis moralitas.
Dengan dihimpit lingkungan
seperti itu, saya punya naluri bagaimana saya bisa menerapkan
apa yang namanya kebenaran,” kata Gus Tanto. Awalnya, mencari jamaah tidaklah
gampang. Gus Tanto terjun
sendiri ke terminal, stasiun dan
pasar-pasar untuk bergabung
dengan para bandit. “Saya harus masuk terjun ke dunia mereka. Saya terjun di
terminal langsung ke base camp-
nya mereka dan benar-benar
mengetahui semuanya. Saya
jangan sampai menggurui orang
atau mengatur orang. Saya mengalir saja. Dia ingin minum,
malah saya belikan. Saya harus
mendalami psikologisnya,” tambah Gus Tanto. Orang main ke Perbalan itu
sudah berpikir seribu kali
karena tidak aman apalagi
nyaman. Brooklyn-nya
Semarang itu Perbalan ini Gus Tanto Ferry, salah satu jamaah di
pesantren itu mengaku bosan
tiap hari bermasalah dan
berupaya mencari solusi di pesantren tersebut. “Teman-teman di sini semuanya enak dan mengerti, apalagi
cerita jalan hidupnya sama
seperti saya. Di sini yang lebih
parah dari saya juga banyak,
ada yang tersangkut
pembunuhan,” tuturnya. Warga kampung Perbalan sendiri
menyambut baik upaya Gus
Tanto. Sri Rahayu menyebut
pesantren itu mampu
menghilangkan cap negatif. “Sekarang tidak ada orang mabuk, pesantren bisa
mengamankan. Beberapa tahun
ini tidak ada siskamling tetapi
keadaan aman,” kata Sri Rahayu. Seiring bertambahnya waktu,
Pesantren Istighfar kini tak
hanya menangani para bandit
jalanan namun juga warga lain
dari berbagai strata sosial. Dan lantunan ayat-ayat Alquran
terdengar setiap malam pada
bulan Ramadhan di kampung
bandit ini, menggantikan hiruk
orang-orang mabuk akibat
menenggak minuman keras. Makna dan simbol
Pesantren Istighfar serta
Pengalaman Batin para
santrinya LAZIMNYA, ornamen naga
terdapat di dalam kelenteng.
Namun, apa jadinya kalau
digunakan untuk menghias
pesantren; tentu bakal
menimbulkan pertanyaan. Ya, pertanyaan itu akan terlontar
manakala kita mengunjungi
Pesantren ?Istighfar? di Jalan
Purwosari Perbalan I/755 D
Semarang. Pesantren yang
diasuh Gus Tanto (kiai Tombo Ati) itu, menampilkan relief dua naga
di dinding depannya. Bagi Gus
Tanto, relief tersebut bukan
hiasan semata-mata, melainkan
punya pemaknaan di sebaliknya. ?Naga itu simbol
keangkaramurkaan. Hewan
tersebut memakan apa saja,
termasuk bola api. Nah,
pesantren ini didirikan terutama
untuk persinggahan para mantan preman atau orang-orang yang
pernah menempuh jalan
kesesatan. Dalam bahasa
gampangnya, tempat ini
diikhtiarkan untuk mengatasi
keangkaramurkaan naga,? jelasnya. Selain relief naga, banyak
ornamen lain di Istighfar yang
unik dan tak lazim ditemukan
dalam pesantren pada umumnya.
Coba lihat tulisan yang tertera di
luar dinding mushala: ?Wartel Akhirat (0.42443)?. Apa maksudnya? ?Wartel? yang
digagas Gus Tanto adalah
metafora media komunikasi
antara manusia dengan
tuhannya; sedangkan deretan
angka yang menyerupai nomor telepon di belakangnya,
merupakan simbolisasi adab
komunikasi itu. ?Nol adalah simbol dari
kekosongan. Sebelum melakukan
shalat, kita harus mengosongkan
pikir dari hal-hal yang bersifat
keduniawian. Adapun 42443
adalah jumlah rakaat shalat lima waktu, dari isya, subuh, zuhur,
ashar, dan magrib,? katanya. Masuk ke dalam mushala, kita
akan dibuat lebih terperangah.
Apa pasal? Di atas ruang untuk
shalat itu, terpasang sebuah
lampu disko! Untuk yang satu itu,
Gus Tanto pun punya penjelasan. Lampu bundar yang
memendarkan cahaya warna-
warni itu, bukan difungsikan
sebagai alat penerangan,
melainkan sekadar alat peraga
untuk menjelaskan kepada para santri. ?Lampu disko merupakan
metafora dari kehidupan dunia
yang glamour. Padahal, itu semua
hanyalah hiasan. Kalau dibuka,
yang ada di dalamnya cuma
lampu putih. Itulah, warna yang sejati,? paparnya. Masih ada lagi ornamen ubin
pecah-pecah di ruang tengah.
Hampir serupa dengan hiasan
naga, ornamen itu untuk
menggambarkan betapa
pesantren Istigfar berihktiar menyatukan kembali jiwa manusia
yang retak. Pemilihan warna pondoknya pun
mengandung makna. Warna biru
dipilih, bukanlah tanpa sebab.
Menurutnya, warna biru adalah
surga. Lho, memangnya surga warnanya
biru Gus? Jika ditanya, pria yang
sudah terbiasa berpuasa Senin-
Kamis sejak kelas II SD itu segera
bertutur. Hal itu diilhami dari peristiwa saat
dirinya berumur 35 tahun. Saat
itu, ia sedang menjalani puasa
101 hari. Tiga hari menjelang
waktu yang ditetapkan, dirinya
mengalami sakharatul maut. Sekujur tubuhnya kesakitan, dari
ujung rambut hingga kaki. Saat
menahan sakit yang luar biasa
itu, antara sadar dan tidak,
dirinya mendapati tempat seperti
langit. Seluruh ruangan tersebut berwarna biru, di dalamnya
terdapat jalan yang terang
benderang disertai udara sejuk. ?Saya berpikiran, tempat
tersebut adalah surga,?
tukasnya. Gus Tanto memang gemar
bermain simbol. Lelaki yang
sehari-hari berprofesi sebagai
mandor di Terminal Terboyo itu,
memasukkan simbol-simbol
tersebut dalam bangunan pesantren yang ia kelola. Saat
ini, Santri yang ngangsu ilmu di
tempatnya, kebanyakan datang
dari kaum preman. Mulai dari
preman jalanan, bekas
narapidana, bekas pembunuh, dan pemabuk. Para preman yang
biasanya berperangai garang, di
tangannya berubah santun. Arianto (30), misalnya, mantan
narapidana kasus pembunuhan
lima tahun silam, sejak menjadi
santri Gus Tanto berubah 180
derajat. Dulunya, warga Jalan
Perbalan Purwosari Gang IV itu termasuk pria berwatak kasar. ?Saya dulu sering marah tanpa
sebab. Tiap bertemu orang,
hawanya pingin marah. Tapi,
sekarang kalau marah rasanya
menyesal,? ujar dia. Hal yang sama juga dialami Kuat
Sumali (47). Pria yang sekujur
badannya dipenuhi tato itu
mengaku menyesal dengan masa
lalunya. Kini, pria yang sudah
mempunyai cucu itu menemukan ketenteraman batin setelah
menjadi santri di pondok Gus
Tanto. Rata-rata preman yang menjadi
santri mengaku senang dengan
metode pembelajaran yang
diajarkan di Pesatren Istighfar.
Dalam mengajar, kiai berambut
gondrong itu lebih mengedepankan akhlakul
karimah.bahkan sampai saat ini
gus tanto juga punya usaha
transportasi,.jarak jauh maupun
dekat dengan nama
istighfar.beliau sangat disegani dikalangan preman
semarang,beliau banyak punya
murid preman yg berusaha
mengenal islam,murid nya meliputi
preman
johar ,barutikung,terboyo,banyu manikdan banyak tempat tempat
nongkrong para preman,beliau
sudah banyak mengentaskan
preman preman yang keblinger
jadi orang baik,kabar yang
beredar gus tanto punya keramat tinggi.gustanto adalah
kyai yang memang mantan
preman yang sudah pengalaman
dalam dunia kekerasan.banyak
musuh musuh beliau yang di
taklukkan saat dia masih jadi preman.murid saat ini sudah
mencapai ribuan bahkan banyak
juga yg dari luar
kota,kebanyakan jadi santri non
mukim.
banyak keunikan yg di miliki gustanto.

About admin

orang biasa berusaha jd tetap biasa..ketenangan jiwa akan selalu ada asal selalu bersyukur.

5 responses »

  1. wisnu mengatakan:

    kalo gak salah beliau dulu berguru ke gus maksum,ke abah rowiyan gunung pati,ke kyai keturunan akhir sunangunung jati pewaris imam mesjid sunan gunung jati. Bahkan teman ngaji gus tanto saat di abah rowiyan(syech gondrong)yg bernama syech sam jg terkenal di daerah demak.

  2. khairul@malaysia mengatakan:

    salam. Sy Khairul dr Malaysia. Nak sangat belajar ilmu ghaib tapi tiada sapa mahu ngajarin. Kepada sesepuh yg mau bantuin sy tlg ijazah ilmu kpd sy yg hina ini. Nama sy Muhamad Khairullah Anuar bin Azhari tarikh lahir 26 10 1995 nama ibu Khatijah binti Mohd Zain n0 hp sy 60178708567

  3. Aminudin mengatakan:

    Asslmu’alaikum Wr. Wb.
    Sy sbg orang perbalan merasa bangga sama Gus Tanto, kalo sy pulang kampung InsyaAllah ingin silaturahmi..cumen sy ingat2 masa kecil sy..Gus Tanto yg mana? apa yg dulu selalu jamaah di Masjid Al-Hidayah apa bukan..kalo iya ingin sekali cium tangan Gus Tanto..maaf Gus Tanto, sampai lupa perkenalkan sy udin adik-nya Mas Agus/Mas Agung Jedut ( rumah dulu depan Kyai Cilik )..skarang posisi sy ada di Cileungsi-Bogor..minta do’a-nya mudah2an udin disini sukses…salam buat Gus Tanto !

    Wassalam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s