surinameDarah jawa. M. Fathoni Arief 27-02-2006 Pelabuhan Tanjung Perak
Surabaya terasa begitu
panas siang ini. Sebuah
tempat di negeri ini di mana
untuk pertama kalinya aku
menjejakkan langkahku, setelah sekian lama
menghabiskan waktu dalam
sebuah perjalanan yang
sangat melelahkan.
Perjalanan dari sebuah
negara kecil di benua Amerika: Suriname,
tempatku dilahirkan dan
dibesarkan. Saat ini adalah hari pertama aku
menjejakkan kaki di sini di
sebuah kota yang mungkin
usianya lebih tua dari kota
kelahiranku Paramaribo, kota
terbesar di Suriname yang dihuni hampir sebagian besar penduduk
negara tersebut. Terdapat
persamaan di antara dua kota
tersebut. Surabaya dan
Paramaribo merupakan kota-
kota tua yang banyak menyisakan bangunan-bangunan
peninggalan pemerintah kolonial. Pelabuhan terbesar di Indonesia
bagian Timur ini cukup ramai
dipenuhi oleh para penumpang.
Suasana hiruk pikuk para
penumpang yang berlalu lalang
dan mondar-mandirnya kuli angkut yang membawa dan
menawarkan jasanya sempat
membingungkan aku. Maklum
baru pertama kali aku datang ke
sini, sebuah negeri yang jauh
yang katanya adalah asal dari nenek moyangku. Hampir semua
orang yang ada di sini
mempunyai ciri-ciri yang mirip
denganku. Kulit sawo matang,
rambut hitam dan tinggi rata-
rata orang Asia. Dari pembicaraan kuli-kuli yang
ada di sini menggunakan bahasa
yang mirip dengan yang dipakai
oleh leluhurku di sana: Suriname.
Aku semakin yakin dengan
cerita-cerita yang diberikan di tanah Jawalah tempat nenek
moyangku berasal. Ketika aku berjalan di sepanjang
kota Surabaya ini, di beberapa
sudut kota masih bisa kujumpai
bangunan-bangunan yang
modelnya mirip dengan yang ada
di negaraku. Melihat bangunan seperti itu aku jadi teringat
dengan kota kelahiranku:
Paramaribo. Bangunan seperti itu
di negara asalku adalah bekas
peninggalan pemerintah kolonial
Belanda mungkin saja yang ada di sini juga sama soalnya dari
cerita-cerita yang sering
kudengar negeri ini dalam
rentang waktu yang lama
sempat dikuasai oleh pemerintah
kolonial Belanda. Dari cerita yang pernah kuterima
dari kakek, nenek, dan kedua
orang tuaku di sini, tanah Jawa,
dulunya leluhurku berasal. Aku
masih ingat tiap kali kakek atau
nenek menyebut-nyebut tentang tanah asalnya ia selalu
meneteskan air mata, kukira itu
tanda kerinduan yang belum bisa
dipenuhi. Mereka berdua keburu
meninggal sebelum sempat
mewujudkan cita-citanya untuk melihat kembali tanah
kelahirannya. Kata kakek dulunya lahir di
Surabaya sedangkan nenek
sendiri adalah orang dari
Tulungagung sebuah kota yang
kira-kira bisa ditempuh dalam
tiga jam perjalanan dari kota pelabuhan ini. Surabaya menurut
cerita kakek tidaklah seperti ini
kukira sekarang kota ini telah
menjadi kota Metropolis yang
terus berkembang pesat. Kakek dan Nenekku merupakan
orang Jawa asli, Oost Java.
Sekitar tahun 1930an saat itu
beliau masih begitu muda kira-
kira masih menginjak dua puluh
tahun. Kakek bersama dengan ratusan orang lainnya lewat
Badragumilang (program bedhol
desa ke Suriname) diangkut
dengan kapal laut menyeberang
ke sebuah negara yang sangat
jauh. Mereka dibawa mernyeberangi Samudera Pasifik,
ke sebuah tempat baru di
daerah benua Amerika yang
bernama Suriname. Dengan bekal janji-janji dan
harapan akan perubahan nasib
selepas selesainya kontrak
mereka rela pergi jauh
meninggalkan tanah
kelahirannya. Sebagian besar dari mereka dibawa ke daerah-
daerah perkebunan, pabrik dan
industri lain di negara yang juga
dikuasai oleh pemerintah kolonial
Belanda itu. Janji tinggallah janji. Harapan
besar yang mereka punyai sirna.
Apa yang dulu dipegang dan
berhasil membujuk mereka tak
sesuai dengan yang diharapkan.
Kakekku ternyata dan rekan- rekan lainnya ternyata dijadikan
pekerja kasar dengan upah yang
begitu murah. Setelah kontrak selesai impian
kakek dan para pekerja lainnya
untuk mengubah hidup sirna.
Kecewa, menyesal, dan yang
paling menyiksa adalah perasaan
malu baik terhadap sanak kerabat ataupun pada tetangga.
Perasaan itulah yang membuat
kakek dan orang-orang lain yang
ikut dalam Badragumilang enggan
untuk kembali ke tanah Jawa
dan memilih untuk menetap. Selain karena jarangnya kapal
yang berlayar ke tanah Jawa
dan mahalnya ongkos yang harus
dikeluarkan. Menetap dan tinggal
di negeri Suriname akhirnya
menjadi pilihan bagi mereka. Di antara mereka akhirnya ada
yang menikah dan hidup
berkeluarga. Mereka merupakan
cikal bakal generasi Jawa di bumi
Suriname. Aku sendiri merupakan generasi
ketiga dari pendatang dari
Jawadwipa. Aku sangatlah
bangga menjadi seorang Jawa
asli Suriname. Kini setelah hampir
satu abad di antara kami mulai menempati posisi penting di
pemerintahan negara Suriname.
Jabatan setingkat menteri
pernah dipegang oleh seorang
putra Jawa. Bahkan di antara
pejabat tinggi negeri ini ada yang beberapa waktu lalu
mengadakan kunjungan di
Indonesia. Dari kejauhan bisa kulihat kapal-
kapal besar yang mulai
meninggalkan pelabuhan. Melihat
hal itu mengingatkanku pada
cerita-cerita kakek, bagaimana
hampir satu abad yang lalu beliau bersama ratusan orang lainnya
dengan menggunakan kapal
dibawa pergi meninggalkan tanah
kelahiran untuk selama-lamanya. Sebuah peristiwa bersejarah
yang sangat memilukan
tentunya. Wasiat terakhir dari
kakek yang beliau sampaikan
padaku adalah mencari kabar
tentang saudara dan keluarganya. Pesan itu pula yang
diulangi diberikan kedua orang
tuaku sebelum keduanya
meninggal beberapa tahun lalu.
Beban berat yang baru kali ini
bisa kulaksanakan. Hanya berbekal selembar surat dan
alamat yang mungkin sudah tak
bisa dijumpai saat ini. Stasiun Wonokromo, Kertosono,
Surabaya dan Tulungagung nama
tempat yang sering disebutkan
oleh kakek yang mungkin bisa
kugunakan sebagai petunjuk.
Selain tempat-tempat itu kakekku sering menyebut-
nyebut nama Sumarni adiknya
yang saat ditinggalkan masih
berusia dua tahunan. Hanya itu
petunjuk yang bisa kugunakan
tak ada foto atau alamat yang jelas. Sulit memang untuk
melacaknya selain itu aku juga
tak tahu apa Sumarni adik
kecilnya itu masih hidup atau
sudah meninggal. ***** Sepanjang daerah sekitar
stasiun lama ini mulai kususuri.
Mungkin saja dulu kakekku
tinggal di daerah ini. Saat
pertama datang di Suriname
kira-kira tahun 1930an yang merupakan gelombang akhir
pengiriman tenaga kerja ke sana.
Berarti jika masih hidup Sumarni
adik kakekku saat ini berusia
tujuh puluh tahunan. Sejauh yang kurasakan hingga
saat ini memang sulit untuk
melacak jejak saudara dari
kakekku. Seorang pendatang
yang begitu asing dan harus
mencari sesuatu yang belum pasti ada keberadaannya. Hal
itulah yang kini tengah aku alami. Saat ini merupakan hari ketiga
semenjak kedatanganku dari
bumi Suriname. Dua hari lalu
waktuku telah terbuang begitu
saja tanpa hasil yang
memuaskan. Saat inipun aku juga tak tahu apakah akan
mendapatkan informasi yang
berharga. Yang kulakukan
hanyalah berjalan dan mencari
tahu. Daerah sekitar stasiun
Wonokromo masih kususuri sebagai target utama. “Nasi pecel … nasi pecel … nasi..
nasi, masih hangat mas!” Seorang
penjual makanan datang
menghampiriku. Makanan apa ini
terus terang aku belum tahu
seperti apa isinya. Apakah ini seperti yang ada di daerahku?
Pertanyaan yang akhirnya
memaksaku untuk mencoba
membeli dari nenek-nenek tua
itu. “Satu mbok!” Kataku dalam
bahasa Jawa khas Suriname.
Meskipun agak beda tapi kuyakin
ia mengerti apa yang
kumaksudkan. Nenek-nenek penjual makanan
itu segera mengambil satu
bungkus makanan yang ia
tawarkan. Dari bakul yang ia
bawa terlihat dagangannya
tinggal menyisakan beberapa saja. Setelah menerima makanan
itu segera kuserahkan beberapa
lembar uang ribuan rupiah; mata
uang resmi di negara ini. Perutku yang sudah terasa lapar
membuat secepat kilat aku
membuka bungkusan itu dan
menyantapnya. Ternyata ini
adalah nasi Pecil begitu orang di
tempatku menyebutnya. Benar meskipun jauh mereka semua
seperti saudara bagiku. Benar-
benar mirip dengan yang ada di
kampung halamanku. “Anak bukan asli sini ya?” Nenek-
nenek tua itu bertanya padaku
dengan dialek yang sangat halus. Bahasa yang bisa kutangkap
walaupun hanya sedikit-sedikit.
“Ya Mbok, saya datang dari
negeri yang sangat jauh dari sini.
Tiga hari lalu saya tiba dari
Negeri yang bernama Suriname”. Jawabku meski dengan bahasa
Jawa Suriname. “Pantas saja, meski anak mirip
orang Jawa tapi bahasa yang
digunakan sedikit aneh. Bahasa
seperti yang anak gunakan itu
mirip bahasa Jawa ngoko”. Imbuh
wanita tua penjual nasi itu. “Ya mbok saya pernah dengar
katanya bahasa yang saya
gunakan ini bahasanya para kuli”. “Berarti anak tidak bisa bahasa
Indonesia atau Melayu?” Nenek
itu bertanya dengan bahasa
yang agak beda. “Apa nek?” Tanyaku kembali
soalnya aku tak begitu jelas
dengan yang ia katakan. Ia
segera menjelaskan kembali
jawabannya dengan bahasa Jawa
lagi. “Saya tidak menguasainya nek. Di
negeri saya ada dua bahasa
yang sering kami gunakan yaitu
bahasa Belanda dan Jawa. Aku
ingat ketika bertemu dengan
seorang pegawai kedubes indonesia dia cerita tentang
bahasa resmi yang dimiliki oleh
Indonesia sebagai bahasa
pemersatu. “Sudah lama jualan di sini nek?”
Tanyaku pada nenek penjual nasi
itu. “Wah sangat lama nak.
Bahkan sejak anak belum lahir
saya sudah jualan di sini”.
Jawabannya memberikan sedikit harapan buatku untuk mengorek
keterangan tentang saudara
kakekku. “Kira-kira berapa tahun?” “Ya
sejak nenek masih gadis. Saat itu
umur nenek masih belasan
tahun”. Kulihat dari matanya ia
seakan bernostalgia dengan
masa lalunya. Pertanyaan-pertanyaan yang
kulontarkan mungkin saja telah
membangunkan kenangan
lamanya. Nenek penjual nasi yang
akhirnya kuketahui bernama
Minem itupun terus bercerita. Mulai dari awal mula ia berjualan
nasi hingga semua kisah
hidupnya. Dari apa yang ia
ceritakan ternyata ia tak
mengenal dengan kakekku dan
ketika kutanya tentang nama Sunarti menurut ceritanya ia
telah hilang menjadi saat negeri
ini dikuasai oleh Jepang. Hingga
sekarang kabar tentang Sunarti
tak diketahuinya. Begitulah akhir dari pencarianku.
Dengan usaha yang keras
seorang yang kuharapkan bisa
menjadi kunci penunjuk
keberadaan keluarga kakekku
telah hilang. Seperti yang diceritakan mbok Minem tak ada
lagi keluarga dari Sunarti yang
tersisa. Berarti keluarga dari
kakekku kemungkinan besar juga
telah hilang semua. Aku termenung merasa bersalah,
tak bisa memenuhi harapan
kakek dan kedua orang tuaku.
Sesuai dengan jadwalku dua hari
lagi aku harus kembali ke
Suriname. Aku harus segera mengurus studi lanjutku ke
negeri Belanda. Kemungkinan
besar aku akan bermigrasi ke
negeri itu menyusul jejak
saudara-saudaraku yang lain.
Bibiku saat ini tinggal di kota Amsterdam, untuk sementara
nantinya aku mungkin akan
tinggal di sana. Menghabiskan waktu sebelum
kembali kusempatkan untuk
berjalan-jalan dan melihat
suasana kota. Ada satu yang
ingin kucari sebuah literatur
tentang sejarah orang Jawa. Di sebuah toko buku besar di kota
ini, kucoba mencari literatur itu. Di salah satu sudut di bagian
toko ini kucoba mencari buku itu.
Dari buku-buku yang ada
ternyata tak kudapatkan hal itu.
Aku terus mencari rak demi rak
memang sebagian besar buku yang ada menggunakan bahasa
Indonesia. Saat aku tengah asyik mencari di
dekatku kulihat seorang wanita
yang kira-kira seumuran
denganku. Wajahnya cukup
manis, kulihat ia sedang
membaca. Ah ternyata buku yang ia cari seperti yang
kumaksud. Sejarah tentang Jawa
Suriname. Sebuah buku dalam
bahasa Inggris. Spontan saja
dengan Jawa Surinameku aku
segera menyapanya. “Lagi belajar tentang Suriname?”
Dia sedikit kaget lalu menoleh ke
arahku lalu memperhatikanku. Dia
membalas sapaanku dengan
bahasa Jawa campur Indonesia
yang bisa kutangkap walaupun hanya sebagian. “Ya mas, kebetulan saya kuliah di
Fakultas Sastra jurusan Sastra
Nusantara. Saat ini sedang
membuat penelitian tentang
Jawa Suriname. Mas orang mana
kok bahasa yang digunakan agak aneh?”. “Saya asli Suriname. Sudah
beberapa hari ini mengadakan
kunjungan di negara ini”. Bermula
dari itu kita terus bercerita satu
sama lain. Panjang lebar aku
ceritakan tentang Suriname dia kelihatannya sangatlah tertarik.
Dari yang ia ceritakan saudara
dari kakeknya ternyata juga
termasuk bagian dari orang-
orang Jawa yang berada di
Suriname. Keinginan yang mendalam untuk
mencari leluhur membuat ia
begitu tertarik menulis skripsi
tentang Jawa Suriname. Satu hal
yang sama ia rencananya akan
melanjutkan jenjang studi S2nya di negeri Belanda. Kedatanganku di Indonesia tak
sia-sia. Begitulah takdir berkata.
Aku kehilangan saudara dari
kakekku tapi aku mendapat
kenalan baru yang mungkin saja
bisa menjadi lebih dari saudara. Vrida namanya, mahasiswi
Universitas Negeri Surabaya. Selepas dari toko buku itu aku
diajak oleh mahasiswi cantik ke
rumahnya di daerah Mojokerto.
Dia memperkenalkanku dengan
sanak kerabatnya. Di antara
sanak kerabatnya terdapat sang kakek yang masih hidup yang
dulu menjadi saksi ketika salah
seorang saudaranya dibawa oleh
kapal laut dari pelabuhan
tanjung Perak ke Suriname. Sang
kakek selalu berkaca-kaca tiap kali menceritakan peristiwa itu
padaku. Kehilangan saudara
tercinta merupakan hal yang
sangat memilukan baginya. ***** Saat ini sudah hampir dua puluh
lima tahun semenjak
kedatanganku ke Indonesia. Aku
sudah menjadi warga negara
Belanda dan karena ingin
melestarikan budaya Jawa aku mengabdikan diriku menjadi
pengajar di sebuah Universitas
negeri ini tentang budaya
bangsa-bangsa khususnya Jawa.
Saudara kakekku boleh hilang
tetapi kedeketanku dengan tanah Jwa tak akan berkurang.
Hubunganku dengan Vrida
ternyata berlanjut ketika kami
sama-sama kuliah di Belanda.
Akhirnya kami terus berlanjut
hingga ke jenjang pernikahan. Dari pernikahan ini kami
dikaruniai dua orang anak. Anak
yang pertama kini telah menjadi
mahasiswa tingkat akhir di
sebuah Universitas di Pulau Jawa.
Cita-citanya yang pernah ia sampaikan adalah menjadi warga
negara Indonesia dan mempunyai
istri orang Jawa seperti
bapaknya. Anakku yang kedua lebih memilih
tinggal di Suriname ikut dengan
keluargaku yang ada di sana.
Cita-citanya ingin menjadi
presiden Jawa pertama di sana.
Sedangkan istriku sendiri kini bekerja di kedutaan besar
Indonesia di Belanda. Meskipun
kami berbeda beda tempat
dengan kebebasan yang
kuterapkan ada satu kesamaan
di antara kami. Walaupun hidup di Belanda, Suriname atau Indonesia
kami tak bisa mengingkari jati
diri kami sebagai putra Jawa.
Sebuah persamaan yang
menyatukan di antara
perbedaan yang ada. Hak Cipta Radio Nederland 2008

About admin

orang biasa berusaha jd tetap biasa..ketenangan jiwa akan selalu ada asal selalu bersyukur.

4 responses »

  1. elang jawa mengatakan:

    menarik sekali mas artikelny…salut3…kalo bs diperbyk mas artikel2 tntg jawa,budany,sejarahny ato apapun yg rasa jawa,he5..

  2. artikel yg sangat menarik dan sangat menyentuh hati. perkenalkan, saya mahasiswa S2 antropologi UGM yang sedang menyusun tesis tentang orang jawa suriname. pada bulan april 2010, saya dan suami saya mengorganisir event “Javasranang: orang Jawa Indonesia – Suriname dalam suatu refleksi kultural kontemporer”. dalam event ini kami mengadakan talkshow di 6 radio di yogyakarta, pameran foto dan video tentang orang jawa suriname, sarasehan dg tema ‘pentingnya penelitian tentang suriname’ dg pembicara: Bob Saridin (pengusaha dr suriname), PM. Laksono (antropolog) dan Suparmin Sunjoyo (mantan dubes RI untuk Suriname), workshop telo teri dan produksi video dokumenter ttg kehidupan Marciano Dasai & Murni Djamin (mahasiswa dari Suriname yg waktu itu kuliah di UGM) di Yogyakarta dan upaya mereka mencari keluarga mereka di Jawa. event ini bertujuan untuk mempromosikan peringatan 120 tahun migrasi orang jawa ke suriname dan sebagai upaya penggalangan dana untuk penelitian saya. ternyata respon masyarakat sangat bagus, dan diliput oleh hampir semua koran nasional. informasi lebih lanjut dan dokumentasi event tsb dapat dibaca di situs web yg saya cantumkan.
    saya sangat ingin berkomunikasi lebih lanjut dg Anda.
    terima kasih.

  3. yani ceper mengatakan:

    literatur yg sangat bagus,,……

  4. Jacky Agus mengatakan:

    seng jelas aku gk iso ngomong opo opo mek isine trenyuh….moco kisa e……mugo2 diwenehi slamet lan panjang umur dene Gusti Allah…amin….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s