Kedahsyatan Ilmu Pancawarna Tunggal

Aslinya di-upload oleh ahmadrock

Oleh: Idris Nawawi. TjA Kala kehancuran Majapahit telah diboyong oleh
Demak Bintoro, dan peradaban Hindu kian menyusut oleh ajaran Islam,
seorang resi agung yang dahulunya menjadi panglima kerajaan Majapahit
datang menemui Resi Wanayasa Agung Bimantara Cakra Bumi (julukan Mbah
Kuwu Cakra Buana, kala itu) beliau adalah mantan panglima besar Damar
Wulan. Setelah sembah sujud dihadapannya, Damar Wulan, langsung
menghaturkan maksud dan tujuannya: “Duhhh…… Rayi… terimalah hamba
sebagai muridmu, sesungguhnya jeng Nabi Muhammad SAW, telah
mendatangiku untuk memohon Syafaatmu yang membawa kebajikan dunia
akherat, berilah hamba setetes ilmumu wahai putra Siliwangi”. Lalu
Mbah Kuwu Cakra Buana, menengadah wajahnya ke atas dan dilihatnya di
alamul Lauh Mahfudz, nama Damar Wulan, telah tercatat sebagai Insanul
Jannah di akhir hayatnya kelak. Maka beliaupun men-Syahid Damar Wulan,
dan diberikannya ilmu ke Ma’ rifatan berupa “Pancawarna Tunggal Jati”.
Selang seminggu kemudian Damar Wulan, datang kembali menemui gurunya
Mbah Kuwu Cakra Buana: “Wahai Wali Allah,,,sungguh mulia sekali ilmu
Pancawarna Tunggal jati, yang kau berikan kepadaku… .. Dahulu saya
berpikiran bahwa ilmu yang ada padaku sudah kurasa cukup, namun dengan
adanya ilmu Pancawarna Tunggal Jati, semuanya tiada berarti sama
sekali. Kini aku sudah maujud dengan apa yang ku cari selama ini,
semoga pulau Jawa, akan menjadi bagianmu kelak”. Lalu Damar Wulan-pun
menghilang dan tidak pernah kembali lagi. Dikisahkan pula pada abad
14, dimana para WaliSongo, sudah menduduki maqomnya masing- masing,
salah satu dari putra Prabu Siliwangi, yang bernama Kian Santang,
malah sebaliknya bertolak belakang dengan sifat kakaknya Prabu Walang
Sungsang atau Mbah Kuwu Cakra
Buana, yang terkenal arif dan bijaksana. Kian Santang, dengan jiwa
mudanya selalu berambisi untuk menjadi orang No-1 dalam ilmu
kesaktian, beliau juga tak segan menantang siapapun yang dianggapnya
sakti, baik yang berasal dari aliran putih maupun hitam. Bahkan dimana
beliau kedapatan kabar, ada salah satu orang sakti di suatu daerah,
beliau langsung mendatanginya untuk mengadu ilmu kesaktian. Tak jarang
para resi dan pertapa lainnya menjadi tumbal kesaktiannya juga para
jawara maupun pembunuh bayaran yang benci akan ulahnya tak luput kena
getahnya pula. Hingga di suatu hari beliau kedapatan informasi bahwa
di daerah Mekkah, ada salah satu jawara pilih tanding yang terkenal
akan kesaktiannya. Tanpa buang waktu beliaupun langsung terbang menuju
arah yang dimaksud. Disini Allah SWT, telah menunjukkan jalan terang
baginya, karena sesungguhnya yang di cari Kian Santang, adalah
Saiyidina Ali RA, Sahabat Nabi Muhammad SAW, yang kurun dan waktunya
sudah jauh berbeda. Namun atas keagungan-Nya… Saiyidina Ali RA,
diturunkan kembali ke bumi untuk membuka hidayah baginya menuju jalan
yang di ridhoi Allah SWT. Sesampainya di tanah suci Mekkah, Kian
Santang, langsung bertanya kepada seorang kakek pembawa tongkat:
“Wahai kisanak,,,,taukah anda dimana tempat tinggalnya Ali, yang
katanya mempunyai ilmu kesaktian luar biasa?” Yang ditanya diam saja
dan sambil menancapkan tongkatnya ke tanah, sang kakek tadi langsung
meninggalkan Kian Santang, seorang diri. Dalam hati Kian Santang,
berkata!! Pasti orang ini tahu dimana Ali, berada, maka di kejarlah
kakek tadi: “Wahai kakek jangan bikin aku gusar,,,,tolong katakan di
mana rumah Ali”. Dengan nada kasar. “Wahai anak muda, memang aku tahu
di mana Ali, berada, namun tolong ambilkan tongkatku,,,aku lupa
membawanya” sambil sang kakek menunjuk tongkatnya yang beliau
tancapkan tadi. Kian Santang, dengan entengnya mendatangi tongkat sang
kakek, yang tak lain adalah Saiyidina Ali RA, sendiri,,,, Beliaupun
langsung mencabutnya. Namun……… .apa yang terjadi… ..Jangankan tongkat
itu tercabut,,,bergerakpun juga tidak. Berkali-kali Kian Santang,
merapalkan ajian untuk bisa mencabut tongkat itu namun semuanya
sia-sia. Tahu siapa yang dihadapinya saat ini,,,, beliaupun langsung
sujud di kaki Saiyidina Ali RA. “Wahai kisanak,,,aku mengaku kalah dan
ijinkan aku pulang” Dengan rasa malu Kian Santang, langsung cabut
diri, beliau merapalkan ajian terbangnya. Namun lagi-lagi ilmu yang di
milikinya tak bisa membawanya pulang. Bahkan bukanya dia langsung raib
seperti biasanya, malah sekarang dirinya seperti katak sedang
berjongkok, diam dan masih di tempat semula. Dengan tersenyum
Saiyidina Ali RA, berkata: “Kisanak, bila engkau ingin pulang, ada
satu ilmu yang bisa menghantarkanmu sampai ke pulau Jawa”. Merasa
dirinya ada harapan,,,, maka di turutilah ucapan sang kakek tadi dan
setelah keduanya
singgah di salah satu bangunan tua, Saiyidina Ali RA, yang sudah
mengenalkan jati diri kepada Kian
Santang, mulai mengajarkan Kalimat Syahadatain dan Hakikat
Bismillahirrohmanirrohiim. Selang beberapa hari kemudian Saiyidina Ali
RA, menyudahi pengajarannya: “Wahai Andika, kini sudah saatnya kau
pulang, carilah orang yang tubuhnya bercahaya (Nur ke- Walian)
berikanlah sorban dan batu ini (kenanga lonjong) padanya, sesungguhnya
dialah bagian dari darah putraku Husen. Mengabdillah padanya”. Dengan
menghaturkan sembah bakti, Kian Santang, langsung terbang menuju pulau
Jawa. Siang malam beliau terus mencari orang yang bakal menjadi
gurunya kelak, rasa haru dan ingin segera bertemu membuatnya haus akan
Islam semakin bertambah. Berbulan-bulan beliau terus mencari dari satu
tempat ke tempat lainnya, namun apa yang dicarinya belum juga di
ketemukan. Teringat akan kakandanya yang sudah lebih dulu masuk islam,
beliaupun langsung mendatanginya guna minta petunjuk atas ciri dari
orang yang selama ini di carinya. Tepatnya pada malam 10 As- Syura
tahun 1421M, dimana masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon, sedang
menggelar Tasyakkur Akbar, atas pergantian tahun Islam, ditengah
keramaian umat manusia, seberkas cahaya terang benderang telah menahan
kaki Kian Santang, yang akan menuju rumah kakandanya. Ya… .Cahaya itu
datangnya dari dalam masjid Agung. Dengan hati berdebar Kian Santang,
membelokkan langkahnya menuju pintu dalam masjid, semakin dekat cahaya
itu semakin menyilaukan matanya hingga beliau tak sadar kakinya
terjatuh atas banyaknya orang yang berlalu lalang di dalam masjid.
Secara spontan Kian Santang, berkata sangat keras!!: “Wahai Nurulloh…
..Wahai Waliyulloh… .Wahai Ma’ rifatulloh… Wahai orang yang mempunyai
darah Saiyidina Husen!!!!” Tak ayal ucapannya ini membuat semua orang
yang hadir tertuju padanya. Dengan keadaan masih terduduk karena
terjatuh tadi, tiba-tiba Mbah Kuwu Cakra Buana, sudah berada
dihadapannya. Melihat keyakinannya yang begitu matang serta
perjalanannya yang cukup lama dalam mencari seorang guru Mursyid,
Allah- pun membutakan mata kasarnya dan menggantinya dengan hati
Muthmainnah keagungan, sehingga sewaktu melihat apa yang ada di
hadapannya saat itu, beliau hanya melihatnya Nur (cahaya ke Walian)
yang begitu besar dan agung. Kian Santang, langsung menubruknya sambil
menangis hesteris: “Ya Allah, jadikanlah aku muridnya, dan jadikanlah
aku dalam Syafaatnya, sesungguhnya aku tak mampu jauh darinya, Kau
sudah menemukan apa yang aku cari selama ini, satukanlah diriku dengan
guruku selama- lamanya”. Dengan perkataan Kian Santang, barusan, semua
yang hadir langsung berucap “Asyhadu Anlaa Ilaha Illalloh, Wa Asyhadu
Anna Muhammadan Rosululloh!!” Kalimah inilah yang biasa di pakai para
Waliyulloh, dimana ada salah satu orang yang diangkat derajatnya
menjadi Waliyulloh A’ dzom. Setelah sorban dan batu Kenanga Derajat,
pemberian Saiyidina Ali Ra, diserahkan kepada kakaknya, Kian Santang,
mulai mengabdi. Dan sejak itu pula beliau tidak pernah satu kalipun
memanggil Mbah Kuwu Cakra Buana, dengan panggilan kakak, melainkan
beliau memanggilnya dengan sebutan, Syaikhun Kamil atau Syeikhina
Ruhul ‘ Adzom. Lima belas tahun Kian Santang, mengabdi kepada
kakandanya, dan selama itu pula beliau tidak pernah berani menanyakkan
sesuatu apapun kecuali gurunya sendiri yang meyuruh. Pada suatu malam
Mbah Kuwu Cakra Buana, memanggil adiknya Kian Santang: “Adikku… .kau
kini boleh pergi,,,kurasa ilmumu sudah
cukup, sebarkanlah Islam, sebagaimana Rosululloh SAW, mengajarkan pada
umatnya”. “Bila selama kau ikut denganku ada yang musykhil atau kurang
paham, katakan saja padaku sehingga hatimu bersih dari sifat
Tadbir/hayalan” Dan dengan sifat khiidmat, Kian Santang-pun bertanya
secara hati-hati. “Guruku yang di hormati Allah, memang benar apa yang
Syeikh, katakan tadi, sesungguhnya selama ini ada ganjalan yang selalu
membebani hatiku. Bila Syeikh berkenan menjawab, saya hanya ingin tahu
amalan atau ibadah yang bagaimana sehingga sewaktu pertama kali ku
bertemu, tubuh Syeikh sangat bersinar terang. Dan mengapa Saiyidina
Ali RA, mengatakan bahwa Syeikh,, bagian dari darah Saiyidina Husen” .
Dengan senyum mengembang, Mbah Kuwu Cakra Buana, menerangkannya:
“Adikku, siapapun itu orangnya, bila kita telah diakui oleh alam
semesta, niscaya maqomatlah yang menjadi baluran bajunya, dan dimana
mereka ditempatkan, maka semuanya tunduk atas karomahnya, tak lain
semua itu berawal dari derajatku sendiri, Pancawarna Tunggal Jati”.
“Allah, telah menempatkan Asbabnya masing-masing, dan Allah, tidak
pernah melihat hambanya dengan ibadah lahir maupun ilmu kulit,
melainkan Allah, akan selalu melihat hambannya dengan cara ketundukkan
hamba itu sendiri sebagai Thobaqo Antobaqnya manusia terhadap
Tuhannya. Sebagai ahli Jawa, Allah, telah mengutus Malaikat Jibril AS,
yang di sampaikan kepada Nabiyulloh Hidir AS, guna menjumpaiku, dengan
memberikan ilmu Pancawarna Tunggal Jati. Ilmu ini bagian dari sastra
alam semesta, dimana ilmu ini telah menyatu, maka seluruh alam semesta
tunduk dalam genggaman tangan (Quthbul Muthlak)” “Sedangkan mengapa
Aku di sebut sebagai titisan darah Saiyidina Husen. Semua tak lain,
karena keturunanmu dan keturunanku bukan dari jalurnya melainkan dari
Hyang Wisnu dan Batara Brahma. Namun sejak zaman Nabi Adam AS, hingga
kini, Allah, telah menempatkanku ditengah jalan keduanya, yaitu
menikahkan putriku Pakungwati (dari keturunan Batara) dengan Syarif
Hidayatulloh (dari keturunan Islam) sehingga dengan bersatunya kedua
aliran ini tidak ada suatu perbedaanpun diantara keduannya untuk
menuju Allah SWT. Disela perpisahannya Mbah Kuwu Cakra Buana,
mengijazahkan ilmu “Pancawarna Tunggal Jati” kepada adiknya tercinta
Kian Santang. Inilah bunyi ilmu Pancawarna Tunggal Jati.
-Bismillahirrohmanirrohiim. Pancawarna Tunggal Jati, Angklik Jati
Gamparan Gilang Kencana. Kedosan jadi rasa. Wong sejagat buana surem
kabeh. Gemebyar…… Kaya Lintang Raenaya. Mencorong kaya bulan tanggal
empat belas. Nurbuat cahayane para Malaikat. Nur cahya nure Kanjeng
Nabi Muhammad SAW. Nur eka nure para Nabi. Nur asih nure para Wali.
Nur sejati neng badan kaula. Yang artinya sebagai berikut: “Pancawarna
Tunggal Jati, jadi wasilah dari segala wasilah yang sangat di
muliakan. Apa yang kita
harapkan jadi nyata. Orang sedunia tunduk semua. Badanku bersinar
terang seperti terangnya bulan tanggal empat belas. Peganganku adalah
cahayanya Malaikat. Peganganku adalah cahayanya Kanjeng Rosululloh
SAW. Aura yang ada di dalam tubuhku adalah Nur nya para Nabi. Aura
pengasihanku adalah Nur nya para Wali. Dan semua Nur yang ada di alam
semesta adalah kepunyaanku”. Kami atas nama penanggung jawab, sangat
berterima kasih sekali kepada seluruh pembikin “Mustika Pancawarna
Tunggal” Tak lupa kepada Syeikhina wa Murobbi fi Sifatihi wa Dzatir
Rosulillahi SAW, Ma’ ad Daroratil Kamil Mukammil Min ahli Rosulul
Wilayah Syareatul Khotam. Kepada Al-Alamah wa Rijalullohul Abdal,
Assyeikh Nur Ali, wa ijni min hadzihil Ijazah, Qulhtbul Ghoist
Mbah Kuwu Cakra Buana, wa Quthbul Ghoist Imamul ‘ Adzom Pangeran
Pembayun, wa Quthbul Jan Sulthan Gaib Sulaiman, wa ummi Thuroby
sulthonul Bilqist, wamin jami-il Ulama wal Arifuun, wa jami-il ghoibi
nukhihi ilaik. Bagi yang sudah memiliki mustika “Pancawarna Tunggal”
ku ucapkan selamat, karena sesungguhnya ilmu ini hanya bisa dimiliki
bagi mereka yang menjadi pilihan-Nya.

About admin

orang biasa berusaha jd tetap biasa..ketenangan jiwa akan selalu ada asal selalu bersyukur.

15 responses »

  1. puji lembah dieng mengatakan:

    mantaf tenan.. Salam sduluran nderek nyimak…

  2. geblek kabeh mengatakan:

    tenan mantaf

  3. ahmadrock mengatakan:

    disamping hanya orang pilihan yg bisa ,lakunya jg super berat lo..

  4. Repatiugau mengatakan:

    Izin nyimak..

  5. JOYO SENTIEK mengatakan:

    Ki…kulo nyuwun ijin nyimak…smoga dpt pencerahan dn berkah-Nya

  6. ahmadrock mengatakan:

    monggo.kulo ngih sami mawon..kangge penguat roso.

  7. JOYO SENTIEK mengatakan:

    Njih..matur sembah nuhun ki…
    Salam rahayu

  8. elang jawa mengatakan:

    kulo njih ijin nderek nyimak ki..mantapz tenan..subhanalloh…

  9. dhonis mengatakan:

    semoga mendapat Ridho Nya…Nyimak Nggih……..

  10. Maludcrb mengatakan:

    keren Kang AhmadRock. salaaam

  11. Aria dwi pangga mengatakan:

    wah ketoe perlu dolan ke tempate om ahmadrock iki.heemmm…..siippppp…

  12. aria dwi pangga mengatakan:

    Weh weh weh kang malud priben kabare kie??? winggi teko candi gedong songgo numpak opo?

  13. ahmadrock mengatakan:

    salam rahayu.mas aria..nak kulo niki nopo to mas tiyang alit,ngih numpak bus mas.

  14. Bajol putih mengatakan:

    ehem3

  15. Bambang irawan mengatakan:

    Ijin, para sedulur , yang punya ilmu pancawarna tunggal jati. Harap sms 087817139347 , saya ingin belajar ilmu tersebut,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s