1024x768_Flower+Fire+Pictures.jpg

Aslinya di-upload oleh ahmadrock

Arifin Syam adalah putra dari kepala bagian pembesar istana dibawah
kekuasaan Raja Hut Mesir, beliau sejak bayi telah ditinggalkan oleh
ayah bundanya kehadirat Allah SWT, dan akhirnya dibesarkan oleh
seorang muslim yang taat, disalah satu kota terpencil bagian negara
Syam.
Nama Arifin Syam sendiri diambil dari kota dimana beliau dibesarkan
kala itu yaitu Negara Syam. Dalam keumuman manusia seusianya, Arifin
Syam dikenal sangat pendiam namun pintar dalam segi bahasa bahkan
saking pintarnya beliau sudah terkenal sejak usia 7 tahun dengan
panggilan sufistik kecil dikalangan guru dan pendidik lainnya. Karena
pintar inilah beliau banyak diperebutkan kalangan guru besar diseluruh
negara bagian Timur Tengah, dan sejak usia 11 tahun beliau telah
menempatkan posisinya sebagai pengajar termuda diberbagai tempat
ternama sepeti : Madinah, Mekkah, Istana Raja Mesir, Masjidil Aqso
Palestina dan berbagai tempat ternama lainnya.
Namun dalam kepribadiannya, beliau banyak dihujat oleh ulama fukkoha,
dikarenakan rambutnya yang semakin hari semakin memanjang tidak
terurus, sehingga dalam pandangan para ahlul fikokkha, Srifin Syam
terkesan bukan sebagai seorang pelajar religius yang mengedepankan
makna tatakrama seorang sufistik agung.
Hal semacam ini bukan karena Arifin Syam tidak mau mencukur rambutnya
yang lambat laun jatuh ke tanah, namun beliau sediri sudah ratusan
kali beriktiar kebelahan dunia untuk mencari orang sakti yang benar-
benar mampu memotonga rambutnya, pasalnya sejak dilahirkan ke alam
dunia, rambut Arifin Syam sudah tidak bisa dipotong oleh sejenis benda
tajam maupun alat lainnya dan kisah ini berlanjut hingga beliau
berusia 40 tahun. di usisa 30 tahun beliau diambil oleh Istana Mesir
dan menjadi panglima perang dalam mengalahkan pasukan Romawi dan
Tartar, dan dari sinilah nama beliau mulai mashur dikalangan
masyarakat luas sebagai panglima perang tersakti diantara panglima
perang sebelumnya. sebab keumuman seorang panglima kala itu bisa
dilihat dari strategi perangnya dan juga kelihaiannya dalam memainkan
pedang, panah maupun tombak dikancah peperangan, namun lain dengan
Arifin Syam, yang kini sudah bergelar dengan nama Panglima Mohammad
Syam Magelung Sakti, beliau acap kali tidak membawa pedang maupun
tombak dalam memimpin pasukannya, namun beliau selalu menebaskan
rambutnya yang seperti kawat baja disetiap menghadapi ribuan pasukan
musuh sehingga dengan kesaktian rambutnya pula membuat pasukan musuh
pontang panting.
Kisah kesaktian rambutnya mulai mashur di usia 32 tahun dan pada usia
34 tahun beliau bertemu secara yakodho / lahir dengan Nabiyullah Hidir
AS yang mengharuskan beliau mencari guru mursyid sebagai pembimbingnya
menuju maqom kewalian kamil. Kisah pertemuan dengan Nabiyullah Hidir
AS membuat beliau meninggalkan istana Raja Mesir yang kala itu sangat
membutuhkan tenaganya,
bahkan bukan hanyaitu beliau pun kerap dinantikan oleh seluruh
muridnya dalam pengena (Waliyullah).
Dengan perbekalan makanan dan ratusan kitab yang dibawanya, Mohammad
Syam Magelung Sakti mulai mengarungi belahan dunia dengan membawa
perahu jukung (Perahu getek) seorang diri, beliau mulai mendatangi
beberapa ulama terkenal dan singgah untuk mengangkatnya menjadikan
muridnya, diantara yang disinggahi beliau antara lain : Syeikh Dzatul
Ulum Libanon, Syeikh Attijani Yaman bagian Selatan, Syeikh Qowi bin
Subhan bin Arsy Bairut, Syeikh Assamargondi bin Zubair bin Hasan
India, Syeikh Muawwiyah As-salam Malaka, Syeikh Mahmud Yerussalem,
Syeikh Zakariyya bin Salam bin Zaab Tunisia, Syeikh Marwan bin Sofyan
Siddrul Muta’ allim Campa, dan masih banyak yang lainnya. Namun walau
begitu banyaknya para Waliyullah yang beliau datangi, tidak satu pun
dari mereka yang menerimanya, mereka malah berbalik berkata
“Sesungguhnya akulah yang meminta agar menjadi muridmu wahai sang
Waliyullah” Dengan kekecewaan yang mendalam, Moh. Syam Magelung Sakti
mulai meninggalkan mereka untuk terus mencari Mursyid yang
diinginkannya hingga pada suatu hari beliau bertemu dengan seorang
pertapa sakti bangsa Sanghiyang bernama Resi Purba Sanghiyang
Dursasana Prabu Kala Sengkala di perbatasan sungai selat malaka.
” Datanglah wahai kisanak di pulau Jawa, sesungguhnya disana
telah hadir seorang pembawa kebajikan bagi seluruh Wliyullah, benamkan
hati dan pikiranmu ditelapak kakinya, sesungguhnya beliau mengungguli
dari semua Waliyullah yang ada” Dengan perkataan sang Resi barusan,
Moh. Syam sangat senang mendengarnya dan setelah pamit beliaupun
langsung meneruskan perjalanannya menuju pulau Jawa.
Mungkin pembaca sekalian merasa bingung dengan perkataan Resi tadi
yang menanyatakan “Benamkan hati dan pikiranmu ditelapak kakinya”
seolah perkataan ini terlalu riskan di ucapkan pada seorang yang
mempunyai derajat Waliyullah. Sebelum pen- meneruskan cerita
selanjutnya, ada baiknya Misteri jelaskan terlebih dahulu kata bahasa
tadi agar tidak salah tafsir nantinya… Dalam pemahaman ilmu tauhid,
bahwasannya tingkat ke Walian di bagi menjadi beberapa bagian dan
tingkat tertinggi disini adalah Maqom Quthbul Mutlak, yang di teruskan
dengan Maqom Atmaniyyah, Arba’ atul ‘ Amadu, Muqoyyad, Autad, Nuqiba,
Nujaba ‘ Abdal, Nasrulloh, Rijalulloh dan lain sebagainya.
Diantara Wali yang ada, semua Waliyullah derajatnya dibawah telapak
Quthbul Muthlak sendiri derajatnya sebagai penerus Rosululloh, yaitu
dibawah ketiak atau pundaknya Nabiyulloh Muhammah SAW (Maqom Qurbah).
Jadi walau Moh. Syam Magelung Sakti pada waktu itu derajatnya sudah
mencapai Waliyullah Kamil, namun dalam hal Maqom, beliau belum ada
apa-apanya dengan Maqom Quthbul Mauthlak yang barusan Misteri bedarkan
tadi. Kami lanjutkan ke cerita semula… Setelah Moh. Syam sampai dilaut
pulau Jawa, beliau akhirnya singgah disalah satu pedesaan sambil tiada
hentinya bertafakkur memohon kepada Allah SWT, untuk cepat ditemukan
dengan Mursyid yang diinginkannya, tepatnya pada malam jum’ at kliwon
ditengah heningnya malam yang sunyi tiba-tiba beliau dikejutkan oleh
suara uluk salam dari seseorang ” Assalamu’ alaikum Ya Akhi min Ahli
Wilyah” lalu beliau pun dengan gugup menjawabnya ” Wa’ alaikum salam
Ya Nabiyulloh Hidir AS yang telah membawaku ke pintu Rohmatallil’
alamiin. Lima tahun sudah Ananda mencari riddhoku dan kini ananda
telah mencapainya, datanglah ke kota Cirebon dan temuilah Syarif
Hidayatulloh, sesungguhnya dialah yang mempunyai derajat raja sebagai
Maqom Quthbul Mutkhlak, terang Nabiyulloh Hidir AS, sambil menghilang
dari pandangannya. Dengan semangat yang menggebu beliau langsung
mengayuh jukungnya menuju kota Cirebon yang dimaksud, sedangkan
ditempat lain Syarif Hidayatulloh / Sunan Gunung Jati yang sudah
mengetahui kedatangan Moh. Syam Magelung Sakti lewat Maqomnya saat itu
beliau langsung mengutus uwaknya sekaligus mertuanya Mbah Kuwu Cakra
Buana untuk menjemputnya di pelabuhan laut Cirebon.
Sesampainya ditempat dimana Sunan Gunung Jati memerintahkannya. Mbah
Kuwu tidak langsung menghadapkannya kepada Kanjeng Sunan, melainkan
mengujinya terlebih dahulu, hal semacam ini bagi pemahaman ilmu tauhid
disebut “Tahkikul ‘ Ubudiyyah Fissifatir Robbaniah / meyakinkan
seorang Waliyulloh pada tingkat ke Walian diantara hak dan Nur Robbani
yang dipegangnya.
Setelah Moh. Syam sudah berada dihadapan Mbah Kuwu Cakra Buana, beliau
langsung uluk salam
menyapanya ” wahai kisanak, taukah anda dimana saya harus bertemu
dengan Sunan Gunung Jati? namun yang ditanya malah mengindahkan
pertanyaannya dan balik bertanya.. ” sudahkah kisanak sholat dhuhur,
setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh? terang Mbah Kuwu. ditanya
seperti itu Moh. Syam langsung mengangguk mengiyakan bahwa memang
dirinya belum melaksanakan sholat dhuhur, lalu Mbah Kuwu mengambil
satu bumbung kecil yang terbuat dari bambu “Masuklah dan sholat
berjamaah denganku” Sambil terheran- heran Moh. Syam mengikuti langkah
manusia aneh dihadapannya yang tak lain adalah Mabh Kuwu Cakra Buana,
masuk kedalam bumbung bambu yang ternyata dalamnya sangat luas dan
bertengger Musholla besar yang sangat anggun, setelah usai sholat Mbah
Kuwu mengajaknya menuju kota Cirebon, namun sebelum sampai ketempat
tujuan atas hawatif yang diterimanya dari sunan Gunung Jati, Mbah Kuwu
memotong rambutnya dan langsung menghilang dari hadapan Moh. Syam
Magelung Sakti. Tahu rambutnya telah terpotong beliau langsung
berkeyakinan bahwa tiada lain manusia tadi (Mbah Kuwu) adalah Sunan
Gunung Jati yang dimaksud. lalu beliaupun memanggilnya tiada henti
hingga keseluruhan pelosok desa.
Kisah terpotongnya rambut Moh. Syam yang kini terkenal dengan sebutan
Syeikh Magelung Sakti kini masih dilestarikan dan menjadi nama desa
hingga kini yaitu di Desa Karang Getas sebelah selatan kantor wali
kota Cirebon dan tahukah anda berapa meter rambut Syeikh Magelung
Sakti, sesungguhnya? yaitu 340 m, atau sepanjang jalan Karang Getas,
antara perbatasan desa Pagongan hingga lampu merah pasar Kanoman.
Panjangnya rambut syeikh Magelung Sakti ini sudah dapat restu dari
beberapa ulama khosois seperti Syeikh Auliya Nur Ali, Syeikh Kamil
Ahmad Trusmi, Syeikh Ahmad Sindang Laut, Syeikh Asnawi bin Subki
Gedongan.
Misteri lanjutkan kembali, dengan rasa bersemangat Moh. Syam terus
mencari keberadaan Sunan Gunung Jati yang dianggapnya barusan memotong
rambutnya, beliau terus berlari sambil memanggil nama Sunan Gunung
Jati terus-menerus, pada suatu tempat tanpa disadari olehnya, beliau
masuk dalam kerumunan orang banyak yang tak lain sedang dibuka
perlombaan memperebutkan putri cantik dan sakti, Nyimas Gandasari
Panguragan. Merasa dirinya masuk gelanggang arena, Wanita cantik yang
tak lain adalah Nyimas Gandasari langsung menyerangnnya… Merasa
dirinya diserang secara mendadak, Moh. Syam langsung mengelak dan
menjauhinya, namun bagaimana dengan Nyimas Gandasari sendiri yang kala
itu sedang diperebutkan para jawara dari berbagai pelosok daerah.
beliau sangat tersinggung dengan menghindarinya pemuda yang barusan
masuk tadi, maka dengan serangan berapi-api Nyimas Gandasari langsung
melipat gandakan tenaganya untuk menglahkan pesaing yang kini sedang
dihadapinya.
Dengan perasaan dongkol, Moh. Syam akhirnya memutuskan untuk
melayaninya dengan bersungguh hati hingga ditengah perjalanan Nyimas
Gandasari sangat kewalahan. Merasa kesaktiannya kalah dibawah pemuda
asing yang kini sedang dihadapinya, maka dengan sesekali loncatan
Nyimas Gandasari berucap “Ya Kanjeng Susuhan Sunan Gunung Jati,
Yajabarutihi ila sulthonil alam, kun fayakun Lailaha Illallah Muhamad
Rosululloh” lalu beliau langsung terbang ke awang- awang dengan maksud
agar pemuda tadi tidak sampai mengejarnya. lain dengan jalan pikiran
Moh. Syam waktu itu setelah beliau mendengar nama Sunan Gunung Jati
disebutnya, beliau tambah berambisi utnuk mencari tahu, maka
disusullah Nyimas Gandasari, hingga sampai tangan kanannya
terperangkap.
Merasa dirinya panik Nyimas Gandasari langsung melepaskan tangan Moh.
Syam sambil tubuhnya menukik tajam kebawah. pada saat yang bersamaan
Sunan Gunung Jati yang sedang tafakkur disungai Kali Jaga, kedatangan
Nyimas Gandasari yang wajahnya terlihat pucat pasi dan sambil menuding
kearah depan Nyimas Gandasari, memohon kepada gurunya agar pemuda yang
mengejarnya tidak melihat dirinya. lalu dengan menyelipkan tubuhnya
dibawah bekiak kakinya, kanjeng sunan Gunung Jati berkata pada pemuda
yang barusan datang dihadapannya ” Wahai kisanak, anda mencari siapa
ditempat yang sepi seperti ini?” lalu Moh. Syam pun menjawabnya ”
Kisanak mohon maaf sesungguhnya saya datang kemari mencari gadis untuk
meminta bantuannya, dimana saya bisa menemui Sunan Gunung Jati?”
dengan tersenyum akhirnya Sunan Gunung Jati melepaskan wujud kecil
Nyimas Gandasari ke wujud semula dan meminta berterus terang dengan
apa yang pernah di ikrarkan sebelumnya, yaitu wajib mematuhi janjinya
untuk menikah dengan orang yang mengalahkan kesaktiannya.
Dengan perjalanan ini akhirnya Moh. Syam berganti nama dengan sebutan
Pangeran Soka dan dipenghujung cerita antara Nyimas Gandasari dan
Pangeran Soka akhirnya berikrar untuk meneruskan perjalanan hidupnya
menuju ilmu tauhid yang lebih matang hingga mereka berdua mufakat
menjalankan nikah bisirri
tanpa hubungan badan selayaknya suami istri, namun akan bersatu dengan
nikah hakikiyah di alam surga kelak dengan disaksikan langsung oleh
Sunan Gunung Jati Min Quthbil Mutlak ila Jami’ il Waliyulloh.

About admin

orang biasa berusaha jd tetap biasa..ketenangan jiwa akan selalu ada asal selalu bersyukur.

One response »

  1. elang jawa mengatakan:

    subhanalloh…mantapz crtanya..buat ki ahmadrock,slm rahayu…urun saran ki,diperbanyak ki artikel2 yg kyk gni..bgs bgt ki..nuwun..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s