Menunaikan ibadah haji
adalah bentuk ritual tahunan
yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang
mampu (material, fisik, dan
keilmuan) dengan
berkunjung dan melaksanakan
beberapa kegiatan di beberapa
tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang
dikenal sebagai musim haji (bulan
Dzulhijjah). Berbeda dengan ibadah umrah
yang bisa dilaksanakan sewaktu-
waktu. Kegiatan
inti ibadah haji ini dimulai pada
tanggal 8 Dzulhijjah ketika umat
Islam bermalam di Mina, wukuf
(berdiam diri) di Padang Arafah
pada tanggal 9
Dzulhijjah, dan berakhir setelah
melempar jumrah pada tanggal
10 Dzulhijjah. Dikalangan masyarakat
Indonesia sendiri lebih akrab
dengan sebutan Hari raya
haji atau hari raya kurban,
karena perayaan ibadah haji ini
juga ditandai dengan penyembelihan hewan
kurban. Dahulu pada masa nabi
Muhammad saw. ada seorang
miskin yang ingin menunaikan
ibadah haji. Ia rupanya telah
mengumpulkan semua biaya
ibadah haji itu selama 20 tahun. Namun, ketika
dalam perjalanan mulia menuju
makkah, ia
menyaksikan banyak kaum
muslimin yang sedang dilanda
kemiskinan dimana-mana. Tak tega melihat saudara-
saudaranya yang seiman sedang
membutuhkan bantuan,
ia pun kemudian mengurungkan
niatnya untuk ziarah ke
makkah. Selanjutnya Ia bagi-bagikan semua hartanya
kepada mereka. Persoalan itu
kemudian sampai
ketelinga nabi dan nabi pun
haru mendengarnya.
Selanjutnya nabi bersabda ” Hajimu sah dan kamu berhak
masuk syurga” Kisah ini memang kurang dikenal
oleh umat islam Indonesia.
Pemahaman agama
yang mereka ketahui selama ini
sebatas pemahaman bahwa haji
adalah ziarah ke baitullah lahir dan bathin
sebagai syarat penyempurnaan
iman seseorang.Kondisi yang memprihatinkan ini
diperparah daerah-daerah yang
terkena
bencana alam, seperti Aceh,
Yogyakarta, Klaten,
Pengandaran, dan Sidoarjo, kelud, bengkulu dan berbagai
tempat lainnya. Bahkan, Hingga
kini masih
banyak dari mereka yang belum
bisa keluar dari kesulitan hidup.
Pertanyaannaya kemudian pantaskah mereka menghambur-
hamburkan uang dengan
meninggalkan saudaranya yang
masih membutuhkan ? Salah satu syarat dari
diperbolehkannnya seseorang
menunaikan haji adalah
bahwa perjalaan dalam keadaan
aman dan tidak dalam kondisi
perang. Jika dimaknai secara social bangsa
kita sedang mengalami
peperangan yang cukup
dahsyat dengan berbagai
fenomena kemiskinan yang
semakin parah. Ini adalah perang terhadap kemiskinan
dan siapapun tidak sah
menunaikan ibadah haji
jika kondisi Negara dalam
keadaan tidak aman. Konteks sosial ini seharusnya
bisa mendorong umat Muslim
untuk berani
menafsirkan ibadah haji secara
subtansial. Dimana haji tidak
harus difahami secara tekstual. Akan tetapi
akan lebih baik jika dimaknai
dengan
kontekstual/realita yang terjadi
di masyarakat saat ini. Artinya,
masyarakat disekitar kita yang sedang
mengalami kesulitan hidup mau
tidak mau sangat
membutuhkan uluran tangan
kita. Terutama bagi orang-
orang yang mempu untuk haji. Yang dalam hal ini kemudian
dinamakan haji social. Merujuk
pada kisah
diatas maka tidak ada salahnya
jika pemerintah menekan para
jamaah haji terutama yang sudah berulang
kali agar semua dana
kenberangkatan di hibahkan
kepada fakir miskin. Haji sosial
adalah haji yang amat mulia,
dicintai fakir miskin dan diridhoi Allah. Inilah
sebenarnya haji mabrur,Sekali lagi, andaikata
pemahaman tentang perlunya
haji sosial ini bisa
diterapkan di kalangan umat
Islam, penderitaan saudara-
saudara Muslim akan bisa dikurangi. Pemerintah tidak
perlu minta bantuan negara lain
dengan
menjual kemiskinan dan bencana
alam. Berbagai kebutuhan sosial
kemanusiaan itu bisa dipenuhi dari rakyat
Indonesia sendiri melalui haji
sosial. Mungkin haji sosial inilah yang
dalam bahasa sufinya termasuk
ibadah yang
dirahasiakan (sirri). Orang yang
berani berhaji sosial berarti
sudah mampu melepaskan diri dari kungkungan
formalisme agama dan
merambah jalan baru
memasuki cita-cita sosial yang
menjadi misi utama agama. Jauhnya pemahaman agama
pada dimensi subtansial karena
manusia sering
dilingkupi dengan berbagai
kepentingan duniawi. Haji bukan hanya urusan surga
dan neraka, tetapi memiliki
pengaruh sosial
yang tinggi dan prestise. Haji
secara duniawi sering dimaknai
sebagai puncak pencapai ibadah dan stempel
kuat bahwa pelakunya pasti
bermoral tinggi lagi
mulia. Fenomena prestise dan status
sosial inilah yang mendorong
kuat bagi muslimin
bahwa jika ingin menjadi orang
berkualitas tinggi ibadahnya
harus pergi haji ke Mekkah. Apa pun jalannya
harus ditempuh. Maka, tidak aneh sering
ditemukan, banyak pejabat
yang minta fasilitas
negara agar bisa naik haji. Para
koruptor juga berlomba untuk
bisa berulang kali haji dan umroh. Para petani
harus menjual sawah dan ladang
dan rela
menjadi miskin setelahnya asal
bisa pergi haji. Itu semua dilakukan karena
ibadah haji bisa dijadikan
bungkus atas
ketidakberesan moralitas sosial
manusia. Sehingga makna haji
yang sesungguhnya tidak kita
temukan. Dalam hal ini
pemerintah harus bisa
selektif dalam
memberangkatkan jamah haji.
Pemetrintah tidak perlu lagi untuk membiayai para pejabat-
pejabatnya menunaikan haji
dengan pembiayaan
uang Negara, karena hal itu
lebih bersifat pemborosan dan
akan lebih baik jika dana yang berjumlah besar
itu digunakan untuk
pemberdayaan masyarakat
miskin. Itu akan lebih baik dari
pada memfasilitasi para
koruptor untuk meraih title haji yang dengan
hajinya itu nanti akn lebih
leluasa menjadi
tikus berpeci putih.

About admin

orang biasa berusaha jd tetap biasa..ketenangan jiwa akan selalu ada asal selalu bersyukur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s